Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

3650 Hari Tanpamu


 " Hey, aku ingin punya sayap!" Tuturku pada Maulana, atau bisa dipanggil Lana. Seseorang yang sedang fokus memandangi senja kala itu. 

Mendengar itu, dia hanya tersenyum ringan

"Ih, beneran!" gerutuku padanya

" Siapa juga yang bilang bo'ongan tuan putri?" Tanpa menoleh, akhirnya dia merespon kalimatku meski jemarinya kini sedang menari di kanvas 

Aku hanya tersenyum kecil," Kalau aku punya sayap, mungkin aku akan bawa kamu bahkan sekalian orang-orang baik didunia ini yang tersakiti menuju kahyangan" ujarku padanya

" Iya Nayanika Eunoia Swastamita!" Entah kenapa Lana sempat-sempatnya memanggilku dengan nama lengkap yang kata orang belibet diucapkan. 

Maulana suka menjadikan aku sebagai objek lukisannya. Entah itu gelap ataupun terang, pasti dia selalu menyuruhku untuk diam sejenak ditempat sambil menyuruh juga berpose ala-ala model. Entahlah, apa yang menjadikan motivasi dia menempatkanku sebagai tokoh dalam lukisannya. Tapi, dari sekian banyak lukisan, ia suka melukisku dengan senja kala. Mungkin dia terinspirasi tentang arti nama belakangku, yaitu swastamita yang artinya cahaya atau pemandangan indah saat matahari terbenam. 

" Udah belom lukisnya Lan?!" Sedikit ku berteriak karena aku tidak ingin lama-lama di bukit ini karena banyak nyamuk juga

" Bentar lagi Nay, tinggal memoles bagian mata aja. Lagian tumben amat buru-buru. Biasanya juga kamu sibuk nyari kosakata buat tulisan kamu bukan?" Ujarnya

" Iya-iya, jangan lupa tuh sayapnya!" Lontarku kemudian

" Tuan putri kok bawel" Ucapnya lirih, namun sayangnya aku mendengarkan

" Maulana!!!" Tegurku sesaat 

Lucu juga dia ternyata. Terkadang ngeselin, romantis, kadang juga galak nan bawel. Tapi ada sesuatu yang mengesankan dalam hati ketika ia menyebutku 'tuan putri'.Bukannya aku tinggi hati atau kegeeran.  Tapi menurutku, tak pernah kudengar ia memanggil sebutan 'tuan putri' kepada orang lain selain aku.

"Ngapain Nay?" Lana akhirnya berdiri mengalihkan pandangannya ke aku dan kanvas. 

" Biasalah nulis masak mancing emosi" Sahutku sambil beranjak mengambil kertas 

" Nayanika, katanya mau punya sayap. Gimana aku mau gambar kalo kamunya gerak gerak terus gak mau anteng." 

" Iya -iya Lan, tau kok" Dan pada akhirnya, Lana yang daritadi serius akhirnya terpancing oleh tingkahku

Sekitar 30 menit aku harus menahan diri dengan pose manis di tempat ini, sambil memerhatikan senjakala yang keberadaannya semakin temaram. Tiba-tiba, Lana menghentikan pekerjaan lukisnya. Langkahnya bergegas ke arahku.

" Nay!" Deru suaranya memecah keheningan senjakala. Mataku menatapnya dengan sangat dalam dan penuh kekhawatiran. Sepertinya, ia sedang berputus asa dan terus mencariku. Entah apa yang selama ini ada di gambaran memorinya tentang aku. 

Sore itu, menjadi sore ke-3650 yang ia lalui tanpa bersamaku. Namun Maulana masih sama. Kecintaannya pada dunia lukispun masih sama. Sedihnya, ingin sesekali aku memeluknya ketika ia mencariku, mencari bayanganku di tempat ini. Ingin sekali aku menghapus air matanya yang sedang merindukan kehadiranku disampingnya, andai itu bisa kulakukan dari duniaku yang teramat jauh ini.






Puspasenja
Puspasenja Aku orangnya sabar. Ketika ada yang melempar dengan batu, aku membalas dengan bunga😚. Tapi dalam lubuk hati paling dalam pengen ngelempar potnya juga;)

Post a Comment for "3650 Hari Tanpamu"